Loading...

Sabtu, 23 Februari 2013

Pemimpin yang Jujur Berawal dari Anak yang Jujur



Pagi itu aku bersandar di pagar lantai dua depan kelas. Aku mematung di situ karena rupanya petugas piket terlambat datang. Sehingga sewaktu aku masuk kelas, petugas piket pun aku perintahkan untuk menyapu lantai kelas. Hal ini untuk mendisiplinkan siswa yang terlambat. Juga untuk membiasakan menjaga kebersihan kelas. Bagaimana bisa berpikir jernih kalau kelas dalam kondisi yang kotor? Selain itu juga sebagai bentuk pertanggungjawaban piket untuk melaksanakan tugasnya.
Terpaksa aku bersandar di pagar karena di dalam kelas penuh debu. Aku paling alergi dengan debu. Ke mana-mana harus menutup hidung jika suasana berdebu. Aku bisa langsung bersin-bersin jika udara terkontaminasi debu. Bolehlah… kalau terpaksa ada yang mengatakan kalau aku “kemayu”, tidak mau kena debu. Tapi itulah faktanya, aku memang bisa batuk dan pilek jika terkena debu. Syukurlah saat ini bukan lagi zaman kapur tetapi menggunakan media white board beserta spidolnya.
Mematung di situ sambil mengawasi petugas piket menyelesaikan pekerjaannya. Kudengar dari bawah ada yang berkata, “Bu, ini kekurangannya. Anak saya tadi membawa uang seribu tapi kok bawa dua kue”. Kuperhatikan arah suara, ternyata wali murid play group sedang memberikan uang kepada  pemilik kantin sekolah.
Perlu diketahui bahwa tempat aku mengajar ialah sebuah yayasan yang terdiri atas beberapa lembaga, dimulai dari play group, TK, MTs., MA, dan, SMK. Semua lembaga berkumpul dalam kompleks yayasan. Yaitu sebuah yayasan yang mengelola pendidikan berciri agama Islam.
Kuperhatikan lagi perbincangan mereka.
Kata pemilik kantin, “O… terima kasih, Bu! Saya sebenarnya tahu kalau putra Ibu membawa dua kue, tapi saya biarkan saja. Namanya juga anak kecil.”
Wali murid, “Tapi perlu dikasi tahu lo, Bu… nanti keterusan”
Pemilik kantin, “Baiklah, Bu… demi mendidik anak-anak ya…”
Dan seterusnya, aku mengamati pembicaraan tersebut hingga petugas piket selesai menyapu lantai kelas beserta terasnya.  Aku pun masuk kelas sambil berpikir, “Alhamdulillah, masih ada orang yang jujur di dunia ini.”
Kejujuran bisa dimulai dari hal-hal yang kecil. Termasuk  wali murid play group di atas. Dari uang seribu rupiah yang termasuk kecil ini, dia bisa mengembalikan kejujuran. Padahal bagi penjual, jika hal tersebut tidak dilakukan juga tak masalah.
Orang tua memang perlu menanamkan kejujuran tidak hanya masalah keuangan. Tapi berbagai hal. Jujur dalam perkataan, perbuataan, maupun bersikap. Karena apa pun yang tersembunyi akan dapat dilihat olehNya. Berawal dari takut melakukan ketidakjujuran karena ada yang melihat, lama-lama akan menjadi kebiasaan anak untuk melakukan kejujuran.
Bisa dicontohkan adanya kantin kejujuran pada suatu sekolah. Proyek ini memang berawal untuk medapatkan kerugian besar. Karena dari sekian banyak siswa yang berlatar belakang sosial serba kompleks membentuk kepribadian yang kompleks juga. Sehingga dengan adanya kantin kejujuran merupakan tantangan tersendiri bagi oknum-oknum siswa yang memanfaatkannya. Memanfaatkan dalam hal tidak baik, yaitu mengambil kue tanpa bayar. Toh tak ada yang melihat.
Hal ini bisa menjadi  proyek garapan para pengurus sekolah untuk mengadakan training maupun siraman rohani tersendiri untuk memberantas sikap yang tidak terpuji. Menanamkan kejujuran untuk diri sendiri, orang lain, bahkan kepada Sang Pencipta.
Baik dan buruknya anak kelak memang bergantung pada bagaimana orang tua maupun guru memberikan bekal ilmunya kepada mereka. Jika dari kecil anak telah terbiasa bersikap jujur, maka kelak setelah dewasa juga akan terbiasa bersikap jujur. Jujur terhadap diri sendiri, lingkungan, maupun pada tuhannya. Kalaupun anak nantinya menjadi seorang pemimpin, juga akan menjadi pemimpin yang takut melakukan perbuatan dosa.
                                                                                                Kediri, 23 Februari 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar